Senin, 16 Desember 2019

Faktor Penyebab dan Dampak Buruk dari Overweight Dan Obesitas Pada Anak

Gambar terkait

 Diet, Overweight, dan Obesitas

Menurut Akhmad, E.Y. (2016) diet yaitu suatu tindakan mengatur pola makan yang dilakukan untuk menyeimbangkan, membatasi, bahkan untuk meningkatkan nutrisi dalam jumlah tertentu. Di berbagai negara, penyebutan tindakan ini mungkin berbeda dengan banyak orang Indonesia, “diet” lebih sering ditunjukan sebagai upaya seseorang untuk menurunkan berat badan ataupun mengatur asupan gizi dan nutrisi tertentu. Lebih tepatnya diet merupakan pola makan yang bertujuan menjadikan seseorang lebih sehat, dan menurunkan berat badan merupakan salah satu motif dari menjalankan diet selain untuk menurunkan massa badan ataupun pantang terhadap makanan tertentu.  Diet yang sehat sangat diperlukan untuk menghindari dampak buruk dari overweight dan obesitas.
Menurut Utami, N.A. (2017) overweight diartikan sebagai berat badan yang melampaui berat badan normal.  Obesitas merupakan peningkatan berat badan melampaui batas kebutuhan fisik dan skeletal, akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Overweight dan obesitas adalah suatu kondisi dimana perbandingan berat badan dan tinggi badan melebihi standar yang ditentukan secara universal, namun merupakan dua hal yang berbeda. Obesitas terjadi apabila besar dan jumlah sel lemak bertambah pada tubuh. Faktor genetik berperan besar dalam terjadinya obesitas, disamping dengan faktor risiko lain yang dapat dimodifikasi. Keadaan obesitas meningkatkan risiko terjadinya Non-Communicable disease, seperti Penyakit Kardiovaskular, Diabetes Mellitus (Sindroma Metabolik), gangguan muskuloskeletal, dan juga menjadi beberapa pemicu Kanker.

Faktor Penyebab dan Dampak Buruk dari Overweight Dan Obesitas Pada Anak

Overweight dan obesitas dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab, dan akibat dari terjadinya overweight dan obesitas dapat membawa dampak buruk pada anak.

a.        Faktor penyebab dari Overweight dan Obesitas Pada Anak

Overweight dan obesitas sebagian besar terjadi karena faktor primer (nutrisional), yaitu karena ketidakseimbangan antara input dan output energi, asupan energi tidak seimbang dengan energi yang dikeluarkan. Jumlah nutrisi yang berlebih dari kebutuhan minimum dengan mudah akan dibuang, seperti protein, air, mineral, serta vitamin. Tetapi, hidratarang dan lemak yang merupakan sumber tenaga utama bagi tubuh yang terdapat dalam makanan, semuanya akan masuk ke dalam tubuh, akan tetapi hanya sebagian kecil yang dapat dijumpai dalam tinja.
Oleh karena itu, jika nutrisi yang masuk ke dalam tubuh melebihi kebutuhan tenaga tubuh, maka kelebihan ini akan ditampung dalam bentuk lemak dalam jaringan adiposa. Sebaliknya, jika nutrisi yang masuk ke dalam tubuh kurang, maka kekurangan ini akan diatasi dengan menguraikan cadangan tenaga yang disimpan.
Menurut Akhmad, E.Y. (2016) faktor-faktor penyebab Overweight dan obesitas diantaranya.
1)        Faktor Primer
Faktor primer merupakan faktor yang utama dan sangat berpengaruh terhadap overweight dan obesitas.
a)         Makan Sembarangan.
Anak-anak yang mengalami overweight dan obesitas terjadi karena pola makan dan asupan makanan yang sembarangan. Sebagian ibu ataupun


orang tua kadangkala tidak memantau kandungan dalam makanan yang dikonsumsi anak. Misalnya kita sebagai orang tua kurang memperhatikan anak yang  mengkonsumsi makanan yang digoreng dan bersantan. Minyak dan santan adalah lemak yang mengandung ikatan jenuh sehingga sukar untuk dipecah menjadi bahan bakar. Selain itu, biasanya banyak mengandung kolesterol.
b)        Kebiasaan Ngemil.
Kebiasaan ngemil sekalipun jumlahnya tidak banyak, tetapi bila tidak hati-hati dan salah dalam memilih makan justru akan membuat berat badan naik lebih cepat daripada makan dari menu utama seperti nasi, sayur, dan buah-buahan. Hal ini karena kebanyakan makanan yang dijadikan cemilan adalah makanan yang mengandung kalori tinggi dan berlemak seperti coklat dan makanan cepat saji.
c)         Tidak Makan Pagi.
Melewatkan sarapan pagi dapat mengaikbatkan perut kosong dan menurunkan aktivitas kerja. Ketika rasa lapar melanda, biasanya seseorang akan mudah tertarik untuk makan camilan berlemak seperti kue tar dan sebagainya. Bahkan, cenderung akan makan berlebihan atau melebihi porsi yang seharusnya pada saat jam makan siang.
d)        Frekuensi Makan yang Tidak Teratur.
Frekuensi makan yang tidak teratur cenderung membuat seseorang mencari makanan tambahan di luar jam atau waktu makan seharusnya. Apalagi terkadang menu tambahan ini porsinya lebih banyak atau mempunyai kandungan lemak dan kalori berlebih seperti pada makanan pizza, minuman bersoda, dan junkfood lainnya.
e)         Makan Tergesa-gesa.
Makan yang tergesa-gesa atau terburu-buru dan kurang banyak dikunyah jelas tidak baik bagi sistem pencernaan. Selain itu, jika porsi makannya banyak namun bila kurang dikunyah maka perut akan mudah merasa lapar dan seseorang yang makannya tergesa-gesa cenderung tertarik untuk menyantap menu makanan lain.
f)         Kurang Beraktivitas atau Berolahraga.


Aktivitas fisik sangat diperlukan untuk membakar kalori dalam tubuh. Namun bila pemasukan kalori berlebihan tidak di imbangi dengan aktivitas fisik yang seimbang akan memudahkan seseorang menjadi overweight dan obesitas.
2)        Faktor Sekunder
Faktor sekunder penyebab overweight dan obesitas adalah adanya kelainan hormon, genetik, dan sebagainya. Namun penyebab ini hanya kurang dari 10% dari total kasus yang ada.
a)         Genetik.
Orang tua yang obesitas, anaknya memiliki resiko menderita obesitas 3-8 kali lebih tinggi dibandingkan anak dengan orang tua yang normal. Oleh karena itu, bayi yang lahir dari orang tua yang obesitas akan mempunyai kecenderungan menjadi gemuk. Terlebih lagi gemuk saat bayi atau anak-anak mempunyai kemungkinan untuk menjadi kurus ketika dewasa nanti.
b)        Lingkungan.
Lingkungan keluarga sangat berperan, misalnya karena penggunaan makanan sebagai hadiah.
c)         Psikologi.
Adanya gangguan psikologi seperti stress, pada orang tertentu dapat meningkatkan nafsu makan secara berlebih dan dapat menyebabkan kegemukan.
d)        Fisiologi.
Meskipun bisa terjadi pada segala usia, namun overweight dan obesitas sering dianggap sebagai kelainan pada umur pertengahan. Energi yang dikeluarkan menurun dengan bertambahnya usia, dan hal ini sering menyebabkan peningkatan berat badan pada usia pertengahan.
Namun, apapun penyebab dasarnya, penyebab primer obesitas adalah konsumsi kalori yang berlebihan dari energi yang dibutuhkan.


b.        Dampak Buruk Overweight Dan Obesitas Pada Anak

Overweight dan obesitas akan membawa dampak buruk bagi kesehatan fisik, psikologi, dan psikososial anak. Menurut Akhmad, E.Y. (2016) dampak buruk overweight dan obesitas pada anak diantaranya.
1)        Overweight dan obesitas dapat menghambat gerak dan aktivitas apapun. Anak yang obesitas biasanya mengalami kesulitan ketika mengikuti mata pelajaran olah raga seperti berlari, bermain sepak bola, ataupun bermain basket.
2)        Meningkatnya risiko diabeter tipe 1 pada anak-anak dan diabetes tie 2 setelah dewasa. Diabetes atau kencing manis tidak hanya menyerang orangtua, namun juga dapat menyerang anak-anak, terutama bagi anak yang mengalami obesitas. Jika terjadi pada anak-anak, biasanya dikenal dengan juvenil diabetes atau diabetes anak. Bedanya dengan diabetes dewasa, diabetes anak disebabkan  oleh produksi insulin sangat kurang atau bahkan tidak diproduksi oleh organ pankreas, sehingga diperlukan asupan insulin. Oleh karena itu, diabetes ini dikenal dengan DM tipe 1.
3)        Obesitas menimbulkan masalah ortopedi akibat beban tubuh yang terlalu berat (slipped capital femoral epiphysis).
4)        Overweight dan obesitas akan memperbesar timbulnya penyakit. Sekalipun masih anak-anak, namun bila overweight dan obesitas terus dibiarkan maka menginjak usia remaja ataupun dewasa overweight dan obesitas akan semakin parah. Dalam keadaan seperti ini, penyakit-penyakit akan mulai menunjukkan serangannya.
5)        Overweight dan obesitas dapat menimbulkan gangguan sistem pernafasan, seperti infeksi saluran napas; tidur mengorok; dan sering mengantuk di siang hari.
6)        Pubertas dini. Anak yang mengalami overweight dan obesitas cenderung lebih cepat tumbuh dan secara seksual lebih matang dari pada anak-anak sebayanya. Hal ini membuat orang-orang di sekitarnya berharap mereka dapat berlaku sesuai dengan ukuran tubuh mereka, bukan sesuai dengan usia mereka.
7)        Gangguan psikososial, munculnya perasaan minder dan kurang percaya diri terhadap lingkungan sekitar.

DAFTAR PUSTAKA


Akhmad, E.Y. (2016). Diet sehat dan aman untuk anak-anak. Yogyakarta: Andi

Utami, N.A. (2017). Overweight dan obesitas.

2 komentar: