Diet, Overweight, dan Obesitas
Menurut Akhmad, E.Y. (2016) diet
yaitu suatu tindakan mengatur pola makan yang dilakukan untuk menyeimbangkan,
membatasi, bahkan untuk meningkatkan nutrisi dalam jumlah tertentu. Di berbagai
negara, penyebutan tindakan ini mungkin berbeda dengan banyak orang Indonesia,
“diet” lebih sering ditunjukan sebagai upaya seseorang untuk menurunkan berat
badan ataupun mengatur asupan gizi dan nutrisi tertentu. Lebih tepatnya diet
merupakan pola makan yang bertujuan menjadikan seseorang lebih sehat, dan
menurunkan berat badan merupakan salah satu motif dari menjalankan diet selain
untuk menurunkan massa badan ataupun pantang terhadap makanan tertentu. Diet yang sehat sangat diperlukan untuk
menghindari dampak buruk dari overweight
dan obesitas.
Menurut Utami, N.A. (2017) overweight diartikan sebagai berat
badan yang melampaui berat badan normal.
Obesitas merupakan peningkatan berat badan melampaui batas kebutuhan
fisik dan skeletal, akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Overweight dan obesitas adalah suatu kondisi
dimana perbandingan berat badan dan tinggi badan melebihi standar yang
ditentukan secara universal, namun merupakan dua hal yang berbeda. Obesitas
terjadi apabila besar dan jumlah sel lemak bertambah pada tubuh. Faktor genetik
berperan besar dalam terjadinya obesitas, disamping dengan faktor risiko lain
yang dapat dimodifikasi. Keadaan obesitas meningkatkan risiko terjadinya
Non-Communicable disease, seperti Penyakit Kardiovaskular, Diabetes Mellitus
(Sindroma Metabolik), gangguan muskuloskeletal, dan juga menjadi beberapa
pemicu Kanker.
Faktor Penyebab dan Dampak Buruk dari Overweight Dan Obesitas Pada Anak
Overweight dan obesitas
dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab, dan akibat dari terjadinya overweight dan obesitas dapat membawa
dampak buruk pada anak.
a.
Faktor
penyebab dari Overweight dan Obesitas Pada Anak
Overweight dan
obesitas sebagian besar terjadi karena faktor primer (nutrisional), yaitu
karena ketidakseimbangan antara input dan output energi, asupan energi tidak
seimbang dengan energi yang dikeluarkan. Jumlah nutrisi yang berlebih dari
kebutuhan minimum dengan mudah akan dibuang, seperti protein, air, mineral,
serta vitamin. Tetapi, hidratarang dan lemak yang merupakan sumber tenaga utama
bagi tubuh yang terdapat dalam makanan, semuanya akan masuk ke dalam tubuh, akan
tetapi hanya sebagian kecil yang dapat dijumpai dalam tinja.
Oleh karena itu,
jika nutrisi yang masuk ke dalam tubuh melebihi kebutuhan tenaga tubuh, maka
kelebihan ini akan ditampung dalam bentuk lemak dalam jaringan adiposa.
Sebaliknya, jika nutrisi yang masuk ke dalam tubuh kurang, maka kekurangan ini
akan diatasi dengan menguraikan cadangan tenaga yang disimpan.
Menurut Akhmad, E.Y. (2016) faktor-faktor penyebab Overweight dan obesitas diantaranya.
1)
Faktor
Primer
Faktor
primer merupakan faktor yang utama dan sangat berpengaruh terhadap overweight dan obesitas.
a)
Makan
Sembarangan.
Anak-anak
yang mengalami overweight dan
obesitas terjadi karena pola makan dan asupan makanan yang sembarangan.
Sebagian ibu ataupun
orang tua kadangkala
tidak memantau kandungan dalam makanan yang dikonsumsi anak. Misalnya kita
sebagai orang tua kurang memperhatikan anak yang mengkonsumsi makanan yang digoreng dan
bersantan. Minyak dan santan adalah lemak yang mengandung ikatan jenuh sehingga
sukar untuk dipecah menjadi bahan bakar. Selain itu, biasanya banyak mengandung
kolesterol.
b)
Kebiasaan
Ngemil.
Kebiasaan
ngemil sekalipun jumlahnya tidak banyak, tetapi bila tidak hati-hati dan salah
dalam memilih makan justru akan membuat berat badan naik lebih cepat daripada
makan dari menu utama seperti nasi, sayur, dan buah-buahan. Hal ini karena
kebanyakan makanan yang dijadikan cemilan adalah makanan yang mengandung kalori
tinggi dan berlemak seperti coklat dan makanan cepat saji.
c)
Tidak
Makan Pagi.
Melewatkan
sarapan pagi dapat mengaikbatkan perut kosong dan menurunkan aktivitas kerja.
Ketika rasa lapar melanda, biasanya seseorang akan mudah tertarik untuk makan
camilan berlemak seperti kue tar dan sebagainya. Bahkan, cenderung akan makan
berlebihan atau melebihi porsi yang seharusnya pada saat jam makan siang.
d)
Frekuensi
Makan yang Tidak Teratur.
Frekuensi
makan yang tidak teratur cenderung membuat seseorang mencari makanan tambahan
di luar jam atau waktu makan seharusnya. Apalagi terkadang menu tambahan ini
porsinya lebih banyak atau mempunyai kandungan lemak dan kalori berlebih
seperti pada makanan pizza, minuman bersoda, dan junkfood lainnya.
e)
Makan
Tergesa-gesa.
Makan
yang tergesa-gesa atau terburu-buru dan kurang banyak dikunyah jelas tidak baik
bagi sistem pencernaan. Selain itu, jika porsi makannya banyak namun bila
kurang dikunyah maka perut akan mudah merasa lapar dan seseorang yang makannya
tergesa-gesa cenderung tertarik untuk menyantap menu makanan lain.
f)
Kurang
Beraktivitas atau Berolahraga.
Aktivitas
fisik sangat diperlukan untuk membakar kalori dalam tubuh. Namun bila pemasukan
kalori berlebihan tidak di imbangi dengan aktivitas fisik yang seimbang akan
memudahkan seseorang menjadi overweight
dan obesitas.
2)
Faktor
Sekunder
Faktor
sekunder penyebab overweight dan
obesitas adalah adanya kelainan hormon, genetik, dan sebagainya. Namun penyebab
ini hanya kurang dari 10% dari total kasus yang ada.
a)
Genetik.
Orang
tua yang obesitas, anaknya memiliki resiko menderita obesitas 3-8 kali lebih
tinggi dibandingkan anak dengan orang tua yang normal. Oleh karena itu, bayi
yang lahir dari orang tua yang obesitas akan mempunyai kecenderungan menjadi
gemuk. Terlebih lagi gemuk saat bayi atau anak-anak mempunyai kemungkinan untuk
menjadi kurus ketika dewasa nanti.
b)
Lingkungan.
Lingkungan
keluarga sangat berperan, misalnya karena penggunaan makanan sebagai hadiah.
c)
Psikologi.
Adanya
gangguan psikologi seperti stress, pada orang tertentu dapat meningkatkan nafsu
makan secara berlebih dan dapat menyebabkan kegemukan.
d)
Fisiologi.
Meskipun
bisa terjadi pada segala usia, namun overweight
dan obesitas sering dianggap sebagai kelainan pada umur pertengahan. Energi
yang dikeluarkan menurun dengan bertambahnya usia, dan hal ini sering
menyebabkan peningkatan berat badan pada usia pertengahan.
Namun,
apapun penyebab dasarnya, penyebab primer obesitas adalah konsumsi kalori yang
berlebihan dari energi yang dibutuhkan.
b.
Dampak Buruk Overweight
Dan Obesitas Pada Anak
Overweight dan obesitas akan
membawa dampak buruk bagi kesehatan fisik, psikologi, dan psikososial anak.
Menurut Akhmad, E.Y. (2016) dampak buruk overweight
dan obesitas pada anak diantaranya.
1)
Overweight dan obesitas dapat
menghambat gerak dan aktivitas apapun. Anak yang obesitas biasanya mengalami
kesulitan ketika mengikuti mata pelajaran olah raga seperti berlari, bermain
sepak bola, ataupun bermain basket.
2)
Meningkatnya
risiko diabeter tipe 1 pada anak-anak dan diabetes tie 2 setelah dewasa.
Diabetes atau kencing manis tidak hanya menyerang orangtua, namun juga dapat
menyerang anak-anak, terutama bagi anak yang mengalami obesitas. Jika terjadi
pada anak-anak, biasanya dikenal dengan juvenil diabetes atau diabetes anak.
Bedanya dengan diabetes dewasa, diabetes anak disebabkan oleh produksi insulin sangat kurang atau
bahkan tidak diproduksi oleh organ pankreas, sehingga diperlukan asupan
insulin. Oleh karena itu, diabetes ini dikenal dengan DM tipe 1.
3)
Obesitas
menimbulkan masalah ortopedi akibat beban tubuh yang terlalu berat (slipped capital femoral epiphysis).
4)
Overweight dan obesitas akan
memperbesar timbulnya penyakit. Sekalipun masih anak-anak, namun bila overweight dan obesitas terus dibiarkan
maka menginjak usia remaja ataupun dewasa overweight
dan obesitas akan semakin parah. Dalam keadaan seperti ini,
penyakit-penyakit akan mulai menunjukkan serangannya.
5)
Overweight dan obesitas dapat
menimbulkan gangguan sistem pernafasan, seperti infeksi saluran napas; tidur
mengorok; dan sering mengantuk di siang hari.
6)
Pubertas dini. Anak yang mengalami overweight dan obesitas cenderung lebih cepat tumbuh dan secara
seksual lebih matang dari pada anak-anak sebayanya. Hal ini membuat orang-orang
di sekitarnya berharap mereka dapat berlaku sesuai dengan ukuran tubuh mereka,
bukan sesuai dengan usia mereka.
7)
Gangguan psikososial, munculnya perasaan minder dan
kurang percaya diri terhadap lingkungan sekitar.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad, E.Y.
(2016). Diet sehat dan aman untuk
anak-anak. Yogyakarta: Andi
Utami, N.A. (2017). Overweight
dan obesitas.







Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusnaon?
BalasHapus